Minggu, 19 April 2009

Satu hati untuk bumi

Selalu ada kisah di balik panggung. Kisah-kisah yang bermuara pada kesuksesan sebuah pesta. ”Saya belum puas,” kata Lidwina Marcella, relawan program ”Earth Hour”—satu jam tanpa penerangan listrik yang akan dilakukan di Jakarta, Sabtu (28/3) pada pukul 20.30-21.30.

Mahasiswi London School of Public Relations (LSPR) itu mengomandani puluhan temannya dalam Climate Change Champion Club LSPR, menyosialisasikan program yang digalang WWF-Indonesia. Konsumsi listrik turut mengemisikan karbon dioksida, unsur utama pembentuk gas rumah kaca penyebab perubahan iklim.

Namanya relawan, tanpa dibayar. Yang ada malah pengeluaran, seperti para mahasiswa LSPR itu. Setidaknya, dana Rp 3 juta dari kampus disiapkan bagi kampanye. Hasilnya, pengelola kawasan Sudirman Park, lokasi kampus LSPR Jakarta, mau mengadopsi program setelah paparan Lidwina dan kawan-kawan.

Sepekan penuh, mereka secara bergiliran menjaga stan kampanye di kawasan Sudirman Park; menggalang dukungan sekaligus rela menerima penolakan. Satu per satu, 2.310 fotokopian brosur disebarkan, termasuk menyelipkannya di pintu kamar apartemen.

Hasilnya, sejumlah penyewa lahan siap bergabung. Begitu pun sejumlah penghuni. ”Ada juga yang menolak. Tidak apa-apa,” katanya yang bersama teman-temannya sempat berkunjung ke almamater SMA masing-masing.

Relawan lain adalah Galih Aristo (28), art director sebuah studio kreatif. Tak cukup menggalang long march dukungan di jalan-jalan utama di Jakarta, bersama satu rekannya, Rabu lalu, ia menyusuri Jalan Sudirman.

Satu per satu, gedung-gedung perkantoran di kanan-kiri pusat niaga Jakarta mereka datangi. Ribuan lembar poster dukungan mereka bagikan ke pengelola gedung. ”Kami susuri dari pukul sembilan pagi hingga lima sore,” kata penggiat Energy Troops itu.

Media facebook

Lain lagi Lala Sudewo, relawan WWF-Indonesia. Ia galang dukungan melalui situs jaringan sosial facebook. ”Enggak banyak sih, 97 orang yang menyatakan dukungan,” kata perekrut utama itu, Kamis (26/3).

Kampanye melalui facebook juga dilakukan Anisa, ibu rumah tangga, yang mendorong ketiga anaknya yang belasan tahun untuk peduli lingkungan. Tak hanya secara virtual, ia pun mendorong anggota komunitas yang ia ikuti untuk bergabung.

Dukungan juga datang dari berbagai komunitas, seperti Abang-None Jakarta. Mereka turut melobi banyak pihak melalui jaringan mereka.

Para relawan, seperti diakui Direktur Program Iklim dan Energi WWF-Indonesia Fitrian Ardiansyah, amat berperan bagi kampanye-kampanye, seperti program ”Earth Hour”. ”Mereka militan sekalipun kami tidak membayarnya,” katanya.

Sejumlah relawan bahkan minta izin memperbanyak brosur, spanduk, atau poster atas biaya sendiri. Sungguh di luar dugaan dan memberi harapan. Berbeda dengan kampanye-kampanye politik saat ini yang beraroma politik uang.

Kini, Pemprov DKI Jakarta mendukung program itu. Penerangan Monas, Gedung Balaikota, Patung Pemuda, Arjuna Wiwaha, dan Bundaran Hotel Indonesia akan dimatikan sebagian. Sejumlah hotel dan perkantoran swasta pun akan terlibat.

Ini program pertama di Indonesia. Keterlibatan para relawan dengan berbagai latar belakang menjadi modal utama sekaligus pendorong semangat.

Keberadaan mereka juga merupakan indikasi bahwa di antara kita masih ada yang peduli pada lingkungan di sekitarnya. Jika banyak orang seperti mereka, mungkin akan ada setitik harapan bahwa bumi tak akan hancur (?)

Namun, di antara alasan keterlibatan itu, ada satu hal yang indah: peduli dari dalam diri sendiri.

Crude oil pricing

Harga minyak mengalami penurunan di perdagangan Asia, Senin (20/4), karena melemahnya permintaan energi di negara yang dilanda resesi, Amerika Serikat.

Kontrak berjangka utama New York untuk minyak mentah jenis light sweet pengiriman April turun 82 sen menjadi 49,51 dollar AS per barrel. Sementara minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Mei turun 80 sen menjadi 52,55 dollar per barrel.

Pasar terpukul pekan ini setelah stok minyak mentah AS diberitakan mencapai posisi tertinggi dalam 18 tahun, memberikan kesan bahwa permintaan di negara konsumen energi terbesar di dunia itu masih terus melemah.

"Penurunan Senin kemungkinan merupakan reaksi yang tertunda terhadap data inventaris yang diterbitkan pada pekan lalu, di mana benar tak terduga," kata Tony Nunan, manajer manajemen resiko pada Mitsubishi Corp di Tokyo.

Departemen Energi Amerika Serikat (DoE) mengatakan Rabu lalu bahwa cadangan minyak mentah naik 5,6 juta barel pada pekan yang berakhir 10 April lalu mencapai 366,7 juta barel--tingkat tertinggi sejak September 1990.

"Secara fundamental kami mempunyai suatu masalah permintaan di dunia, termasuk Amerika Serikat," kata analis dari BMO Capital Markets, Bart Melek. "Ketergantungan atas pasokan yang tengah berjalan ini bagi kami perlu waktu lama."

"Permintaan buruk dan persediaan pada level tertinggi," kata analis Peter Beutel dari perusahaan konsultan energi berbasis di AS, Cameron Hanover. Persediaan minyak mentah sekarang tercatat 16,5 persen lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Indie bandung movement

KETIKA KREATIFITAS SEMAKIN TERKEKANG
Bandung sebagai kota yang penuh dengan kreatifitas, menjadikan kota ini memiliki daya tarik tersendiri. Kreatifitas yang tampak mulai dari fashion, seni hingga budaya. Salah satu kreatifitas yang paling menonjol adalah musik, kota Bandung sejak dulu sudah di kenal dengan gudangnya pemusik. Di kota ini banyak melahirkan musisi-musisi handal dan terkenal se-Indonesia. Tak terkecuali dengan pergerakan musik indie di Indonesia, Bandung menjadi salah satu penghasil band-band indie yang di kenal oleh banyak orang, dan dijadikan barometer pergerakan musik independent scene di Indonesia. Namun, citra Bandung seperti itu terlihat akan pudar. Kreatifitas band-band lokal Bandung semakin terkekang dan sulit untuk berkembang. Salah satu penyebabnya dapat dikarenakan semakin sedikitnya ruang untuk mengembangkan kreatifitas mereka. Pasca kerusuhan tanggal 9 Februari 2008 yang menelan korban tewas, ruang kreatifitas semakin terkekang, pergerakan musik lokal pun semakin lambat. Terlihat timpang ketika di tahun 2007 hampir setiap minggu tidak pernah sepi dari event musik lokal, namun ketika di tahun 2008 event musik lokal semakin langka. Dampaknya banyak band baru yang memiliki potensi yang bagus, kesulitan untuk mendengarkan karyanya kepada para penikmat musik, sehingga mereka hanya memainkan musiknya di dalam studio ataupun ruang lingkup yang sangat kecil. Hal itu membuat pergerakan musik lokal di Bandung hanya jalan di tempat.

Pihak pemerintah daerah serta pihak kepolisian seakan-akan tidak peka melihat kondisi itu. Mereka hanya mempersempit ruang kreatifitas, serta pihak kepolisian yang enggan memberi izin untuk mengadakan event musik yang serupa karena ditakutkan terjadi kerusuhan yang sama. Hal itu membuat para penyelenggara acara enggan untuk merencanakan event musik lokal, karena mereka memperkirakan akan sulit untuk mencari venue acara dan akan sulit untuk mendapat izin dari kepolisian. Kalau pun diadakan suatu event, pastinya akan banyak syarat yang harus dipenuhi. Review saja dari event "Bandung Youth Park Fest" yang dibuat oleh Gimmick, pada event itu acara dibubarkan sebelum waktu akhir yang telah ditentukan, contoh lainnya terlihat dalam event "Flight 173" yang dibuat oleh anak-anak SMA Negeri 2 Bandung, event tersebut hanya diberi izin hingga pukul 18.00 WIB. Berkaca dari 2 event tersebut, terlihat bahwa pihak pemerintah daerah dan pihak kepolisian belum sepenuhnya percaya kepada masyarakatnya untuk menyelenggarakan suatu event yang mengundang banyak masyarakat. Padahal pada event tersebut mengundang hingga ribuan pengunjung dan tidak terjadi kerusuhan yang hingga menelan korban.

Namun terlepas dari semua itu, patut diacungi jempol bagi band-band indie lokal di Bandung, mereka tetap berjuang untuk tetap berkreatifitas. Walaupun dalam sektor riil mereka sulit untuk mengembangkan kreatifitas, mereka melakukan pergerakan melalui dunia maya, banyak band-band lokal yang menunjukkan hasil kreatifitasnya dalam web, contohnya saja dalam web myspace.com. Cara tersebut cukup ampuh untuk tetap bertahan di independent scene ini. Tak hanya dalam negeri, tetapi hasil kreatifitas mereka didengarkan hingga ke luar negeri. Tidak sedikit band yang mengedarkan album atau mini albumnya di negara-negara Asia hingga Eropa, serta ada pun band-band yang masuk dalam kompilasi dari record luar negeri. Hingga ada beberapa band indie lokal yang diundang untuk perform di luar negeri dan respon yang di dapat pun sangat baik.

Semua itu menandakan bahwa hasil kreatifitas band indie lokal Bandung dapat diterima oleh pihak-pihak di luar kota Bandung. Akan tetapi mengapa stakeholder internal di Kota Bandung sendiri tidak mendukung kreatifitas ini. Oleh karenanya, pihak-pihak yang bertanggungjawab atas kemajuan kota Bandung, selayaknya harus mendukung kreatifitas band-band indie lokal, bukannya mengekang kreatifitas. Karena secara tidak langsung kreatifitas ini akan membawa keuntungan bagi kota Bandung baik secara fisik maupun non-fisik. Maka bagi pihak pemerintah cobalah untuk mensupport industri kreatif ini.

By: Rida